He likes cats, and cats like him back. But there is one rule: he can only love one cat. One, not more than one. But here is his biggest problem: he thinks he can love more than one cat, and the fact is that more than one cat fall for him.
So he keeps one cat, and secretly provides places for the other two cats.
Each of the cats can somehow sense the presence of another cat in his life; they fume, but . . . well, what can they do? Somehow they cannot kick him out just like that.
Until one day a wise man comes to him and strongly suggest that he choose.
“Remember the rule: you can only have one cat. ONE. So, you have to choose”
“But I cannot choose,” he insists. “Each of my cats has special features that I really adore. And besides, I love them equally. I never favor one over the other.”
“That’s bullshit,” the wise man says. “You are just being selfish.”
The man shakes his head. “No, I won’t choose. I can’t.”
Such a stubborn man. Let us see and watch how his life story unfolds with his cats. Don’t be surprised if one day he is found dead with marks of cat’s paws on his neck.
Brain Test
| You Are 70% Left Brained, 30% Right Brained |
![]() Left brained people are good at communication and persuading others. If you're left brained, you are likely good at math and logic. Your left brain prefers dogs, reading, and quiet. The right side of your brain is all about creativity and flexibility. Daring and intuitive, right brained people see the world in their unique way. If you're right brained, you likely have a talent for creative writing and art. Your right brain prefers day dreaming, philosophy, and sports. |
Tuesday, September 23, 2008
Monday, July 7, 2008
Kisah Daripada Wanita Cantik
“Lebih mudah dan murah membiayai seorang artis cantik tapi nggak bersuara bagus, daripada membiayai operasi plastik seorang artis yang bersuara emas tapi nggak cantik”.
Bangsat. Melecehkan betul pendapat seorang produser musik kenamaan di Jakarta itu, tentang mengapa dia memilih mengorbitkan seorang artis cewek molek dengan suara pas-pasan.
Dunia ini begitu melecehkan perempuan; hanya memandang perempuan sebatas fisiknya dan menginvestasikan duit untuk memanggungkannya, memanjakan nafsu dangkal pria, dan mengeruk profit darinya.
Apalah artinya seraut wajah cantik dan tubuh semlohai, kalau benak dan hatinya kosong? Apa menariknya makhluk seperti itu? Bimbo, istilah bahasa inggrisnya. Cuma seonggok daging yang lezat dan gurih namun gak bergizi blas.
Terus ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam. Di sebuah konferensi untuk para peneliti Kajian Wanita, seorang rekan pria berbisik kepada saya setelah sekian lama mengamati para peserta: “Eh, wanita-wanita peneliti ini tampangnya payah semua ya?”.
Saya ketawa diam-diam. Ya, memang benar, semua wanita yang hadir disitu cuma bisa dikomentari dengan satu kata: “Nggladrah”, istilah bahasa Jawa untuk tampang yang pas-pasan (skornya ya seket limo atau swidak papat lah paling banyak), pakaian gak trendi, rambut rata-rata pendek atau panjang tapi awut-awutan, wah, wis, dangdut pisaaan . . .
“Ya, tapi mereka pasti pinter-pinter semua,” saya mencoba membela mereka, dan rekan saya pun agak manyun.
Tapi ternyata apa yang dikatakannya itu semakin terasa dampaknya pada seminar selama 3 hari itu. Kemanapun mata memandang di sekeliling ruangan, rasanya sepet benar. Tidak ada seraut wajahpun yang punya fitur menarik dan membuat pupil mata membesar. Semuanya biasa, rata-rata, seperti tembok putih tanpa noda, datar gitu aja.
Ha ha ha, buset, sekarang saya harus memaki diri sendiri karena di akhir seminar yang sepet itu, saya harus mengakui betapa indahnya memang perempuan-perempuan cantik. Ya memang, ada yang bimbo, tapi ternyata banyak juga yang cakep tapi berisi (otaknya maksud saya, bukan dadanya). Tapi bimbo nggak bimbo, isi nggak isi, wanita-wanita cantik memang membuat hidup lebih hidup. Buset benar!
Salam, hai wanita cantik
Terpujilah engkau di antara para lelaki. . .
Bangsat. Melecehkan betul pendapat seorang produser musik kenamaan di Jakarta itu, tentang mengapa dia memilih mengorbitkan seorang artis cewek molek dengan suara pas-pasan.
Dunia ini begitu melecehkan perempuan; hanya memandang perempuan sebatas fisiknya dan menginvestasikan duit untuk memanggungkannya, memanjakan nafsu dangkal pria, dan mengeruk profit darinya.
Apalah artinya seraut wajah cantik dan tubuh semlohai, kalau benak dan hatinya kosong? Apa menariknya makhluk seperti itu? Bimbo, istilah bahasa inggrisnya. Cuma seonggok daging yang lezat dan gurih namun gak bergizi blas.
Terus ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam. Di sebuah konferensi untuk para peneliti Kajian Wanita, seorang rekan pria berbisik kepada saya setelah sekian lama mengamati para peserta: “Eh, wanita-wanita peneliti ini tampangnya payah semua ya?”.
Saya ketawa diam-diam. Ya, memang benar, semua wanita yang hadir disitu cuma bisa dikomentari dengan satu kata: “Nggladrah”, istilah bahasa Jawa untuk tampang yang pas-pasan (skornya ya seket limo atau swidak papat lah paling banyak), pakaian gak trendi, rambut rata-rata pendek atau panjang tapi awut-awutan, wah, wis, dangdut pisaaan . . .
“Ya, tapi mereka pasti pinter-pinter semua,” saya mencoba membela mereka, dan rekan saya pun agak manyun.
Tapi ternyata apa yang dikatakannya itu semakin terasa dampaknya pada seminar selama 3 hari itu. Kemanapun mata memandang di sekeliling ruangan, rasanya sepet benar. Tidak ada seraut wajahpun yang punya fitur menarik dan membuat pupil mata membesar. Semuanya biasa, rata-rata, seperti tembok putih tanpa noda, datar gitu aja.
Ha ha ha, buset, sekarang saya harus memaki diri sendiri karena di akhir seminar yang sepet itu, saya harus mengakui betapa indahnya memang perempuan-perempuan cantik. Ya memang, ada yang bimbo, tapi ternyata banyak juga yang cakep tapi berisi (otaknya maksud saya, bukan dadanya). Tapi bimbo nggak bimbo, isi nggak isi, wanita-wanita cantik memang membuat hidup lebih hidup. Buset benar!
Salam, hai wanita cantik
Terpujilah engkau di antara para lelaki. . .
Friday, May 30, 2008
Menyayat Mati Rasa
Tidur anakku memeluk malam
Memanjat mimpinya sampai bebintang
Biarlah begitu tak usah ia paham
Bapaknya menatap sayu sambil berlinang
(sajak oleh Ook Purwanto, Kompas Minggu, 18 Mei 2008, halaman 28)
Sajak ini berkesan sekali. Menggores benar. Yang terbayang di benak saya adalah seorang pengungsi korban lumpur Lapindo di tenda-tenda darurat di pasar Porong. Sang bapak hanya bisa meratapi nasibnya, rumah tenggelam, pekerjaan melayang, jangankan uang untuk menabung masa depan sang anak tersayang, ongkos untuk hidup sehari-haripun masih harus dihutang.
Sementara sang anak yang masih polos tertidur nyenyak, tak terbayang masa depannya yang kelam.
Saya tidak ingin membahas teknik penulisan si Ook yang membuat puisinya yang cuma sepotong kuatrin itu menjadi menghunjam. Saya hanya berpikir berapa kali kita harus terenyuh mendengar atau membaca penderitaan anak manusia dewasa ini. Ada Ibu yang bunuh diri bersama anak-anaknya, ada pemuda yang nekad gantung diri karena terus menerus menganggur, ada anak gadis diperkosa kemudian dicekik sampai tewas, ada orang-orang yang menangis sampai gulung koming di jalanan karena lapak-lapak sumber penghidupannya dibongkar petugas. Banyak anak kecil sudah harus membanting tulang mencari uang untuk bisa makan. Menyayat benar.
Tapi karena kisah pilu macam itu menjadi makin sering, lama-lama kita menjadi sedikit kebas, mati rasa, tidak lagi merasa tersayat atas tragedi kemanusiaan itu. Apalagi kalau disiarkan terus lewat berbagai media.
Mungkin ada baiknya setiap pembaca berita di TV tak segan menumpahkan emosinya saat membaca berita-berita mengenaskan seperti itu, sehingga para pemirsa pun tergerak untuk meratap, atau setidaknya mengucap selarik doa untuk yang kesusahan. Tak ada salahnya mencucurkan air mata setelah membaca sepenggal berita tentang nasib seorang TKW yang pulang dalam peti mati dengan tubuh bonyok, disambut jerit tangis ibunya di kampung halaman.
“Wah, yang kayak begituan mah mana sempat, Mas?” sergah sang pembaca berita, yang rupanya juga sudah mati rasa. Satu hari dua kali tampil on air, membacakan setidaknya 5 berita kejam atau menyayat, seminggu sudah berapa. Lama-lama kebal, mati rasa. Paling hanya bisa mengucap, “kasihan”.
Kasihan.
Memanjat mimpinya sampai bebintang
Biarlah begitu tak usah ia paham
Bapaknya menatap sayu sambil berlinang
(sajak oleh Ook Purwanto, Kompas Minggu, 18 Mei 2008, halaman 28)
Sajak ini berkesan sekali. Menggores benar. Yang terbayang di benak saya adalah seorang pengungsi korban lumpur Lapindo di tenda-tenda darurat di pasar Porong. Sang bapak hanya bisa meratapi nasibnya, rumah tenggelam, pekerjaan melayang, jangankan uang untuk menabung masa depan sang anak tersayang, ongkos untuk hidup sehari-haripun masih harus dihutang.
Sementara sang anak yang masih polos tertidur nyenyak, tak terbayang masa depannya yang kelam.
Saya tidak ingin membahas teknik penulisan si Ook yang membuat puisinya yang cuma sepotong kuatrin itu menjadi menghunjam. Saya hanya berpikir berapa kali kita harus terenyuh mendengar atau membaca penderitaan anak manusia dewasa ini. Ada Ibu yang bunuh diri bersama anak-anaknya, ada pemuda yang nekad gantung diri karena terus menerus menganggur, ada anak gadis diperkosa kemudian dicekik sampai tewas, ada orang-orang yang menangis sampai gulung koming di jalanan karena lapak-lapak sumber penghidupannya dibongkar petugas. Banyak anak kecil sudah harus membanting tulang mencari uang untuk bisa makan. Menyayat benar.
Tapi karena kisah pilu macam itu menjadi makin sering, lama-lama kita menjadi sedikit kebas, mati rasa, tidak lagi merasa tersayat atas tragedi kemanusiaan itu. Apalagi kalau disiarkan terus lewat berbagai media.
Mungkin ada baiknya setiap pembaca berita di TV tak segan menumpahkan emosinya saat membaca berita-berita mengenaskan seperti itu, sehingga para pemirsa pun tergerak untuk meratap, atau setidaknya mengucap selarik doa untuk yang kesusahan. Tak ada salahnya mencucurkan air mata setelah membaca sepenggal berita tentang nasib seorang TKW yang pulang dalam peti mati dengan tubuh bonyok, disambut jerit tangis ibunya di kampung halaman.
“Wah, yang kayak begituan mah mana sempat, Mas?” sergah sang pembaca berita, yang rupanya juga sudah mati rasa. Satu hari dua kali tampil on air, membacakan setidaknya 5 berita kejam atau menyayat, seminggu sudah berapa. Lama-lama kebal, mati rasa. Paling hanya bisa mengucap, “kasihan”.
Kasihan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
